Rudik Setiawan, Raja Tahu Organik

Senin, 01 Oktober 2012

Membuat sesuatu yang berbeda  dilakukan oleh entrepreneur muda asal Malang ini. Ia membuat penganan tahu berbahan  kedelai organik. Hasilnya, rasa tahu lebih enak, tidak sangit, tidak masam dan juga  lebih sehat karena tidak menggunakan bahan pengawet. Dari  usahanya, Rudik kini mampu menangguk  omzet hingga Rp 150 juta per bulan.
PRODUK TAHU PELANGI (nama mereknya) milik Rudik diuntungkan oleh gencarnya kampanye hidup sehat, terutama terkait anjuran mengonsumsi  produk makanan yang tidak menggunakan bahan pengawet. “Ternyata setelah saya masuki pasar ini peluangnya terbuka lebar,” papar Rudik yang menamakan usahanya industi tahu RDS (nama RDS merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya, Rasendria El Furqonia, Dzufairo El Kamila dan  Muhammad Sirhan Syahzani)
Dengan label organik tersebut Rudik bisa menjual tahunya dengan harga lebih mahal. Jika tahu non organik dijual Rp 1.400/pcs, harga tahu organik miliknya dapat dijual Rp 3.000/pcs untuk kualitas biasa (berlabel Pelangi warna merah). Sedangkan untuk kualitas lebih tinggi (berlabel pelangi warna hijau) jika dijual di pasar swalayan harganya bisa menjadi Rp. 6.000/pcs. Meski harganya lebih mahal, ucap Rudik, tetap saja tahu RDS diburu oleh para ibu-ibu kelas menengah ke atas yang peduli akan hidup sehat.
Dengan harga jual yang tinggi, ia tidak khawatir bila suatu saat harga kedelai naik. Seperti waktu kemarin harga kedelai  melonjak dari Rp 3.500/kg menjadi Rp 8.000/kg, usaha Rudik tetap bsia berproduksi. Karena semua biaya produksi (overhead) masih bisa tertutupi serta masih bisa mendapatkan margin. Bahan baku kedelai sendiri didapat Rudik dari para petani kedelai organik bersertifikat yang berada di daerah Jawa Timur.
Modal Hasil Pinjaman
Jiwa wirausaha Rudik muncul sejak usia dini saat ia masih duduk dibangku SMA kelas 3 di tahun 2001. Berawal saat lahan samping rumahnya disewa seorang pengusaha untuk dijadikan pabrik tahu. Rudik kemudian ikut menginvestasikan modalnya ke usaha tahu tersebut. Investasi pertamanya sebesar Rp 25 juta didapat dari hasil pinjaman dari tetangga. Di tahun 2003, usaha tahu tersebut sempat bangkrut, karena pemiliknya lari dari tanggung jawab dengan membawa serta seluruh modal usahanya.  Jadilah kemudian Rudik sendiri yang harus menyelesaikan seluruh kewajiban yang tersisa.
Namun Rudik tetap bertahan. Dengan kegigihannya, ia berhasil mengumpulkan uang kembali dari hasil menjual ampas tahu dan tanah milik orang tuanya untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Tepat 29 Mei 2004, Rudik mengganti nama usahanya menjadi Industri Tahu RDS. Bermodal Rp 15 juta dari sisa hasil menjual tanah, ia berusaha untuk mandiri. Cobaan pun ternyata belum selesai, pengusaha lain malah mempengaruhi anak buahnya untuk keluar dengan iming-iming jika keluar akan diberi uang saku cukup banyak. Jadilah Rudik ditinggalkan 6 orang karyawannya saat usahanya baru berjalan selama satu bulan.
Rudik tak patah semangat, usaha tahunya tetap ia jalankan. Ia memanfaatkan anak muda yang banyak menganggur di desanya, Klampok, Singosari, Malang. “Saya cari orang baru yang benar-benar tidak tahu tentang dunia tahu, disitulah mereka saya didik mulai dari nol,” papar alumnus jurusan Matematika, Universitas Brawijaya, Malang ini.
Berkembang Bersama Mandiri
Usaha Rudik makin berkembang. Ia langsung mengejar segmen produknya ke arah golongan menengah ke atas. Ini karena mereka sudah menyadari pentingnya makanan yang sehat. Rudik juga merangkul PNS (pegawai negeri sipil), terutama pegawai kelurahan dan kecamatan, untuk memasarkan produknya. Karena dari mereka para wisatawan yang berkunjung ke Singosari, Malang, diarahkan untuk membeli oleh-oleh khas Singosari yaitu tahu organik RDS. Secara tak langsung, besarnya bisnis tahu RDS berasal dari promosi mulut ke mulut.
Usaha  tahu Rudik mengalami perkembangan pesat setelah meraih juara II Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tahun 2009 kategori Mahasiswa Pascasarjana & Alumni bidang usaha industri dan jasa. Omzet usahanya pun naik 3 kali lipat dari sebelumnya. Kalau dulu per bulan hanya meraup omzet Rp 50 juta, saat ini omzetnya sudah mencapai Rp 150 juta dengan kapasitas produksi 2.000-2.500 unit tahu per harinya. Tak hanya tahu, limbah padat pembuatan tahu (ampas kedelai) ia gunakan untuk membuat pakan ternak, tempe gembos, kecap, tepung ampas, dan kue. Sedangkan limbah cairnya (asam kedelai atau whey) diolah untuk pengasaman sari kedelai pada proses pembuatan tahu, minuman untuk ternak sapi, cuka masak, nata de soya, pupuk cair dan biogas dengan kapasistas produksi 7.000 liter per hari.
Diakui oleh Rudik, setelah ia menang di kegiatan WMM pembinaan dan pelatihan yang diberikan oleh Bank Mandiri memberikan kontribusi yang positif bagi pengembangan usahanya. “Tidak hanya pembinaan dan pelatihan wirausaha yang saya dapatkan tapi juga pelatihan customer experience dan pendampingan berwirausaha. Selama mengikuti pendampingan berwirausaha selama 1 tahun saya tidak dipungut biaya sama sekali, yang kalau diuangkan kira-kira sekitar Rp 50 jutaan,” ucap Rudik yang menyelesaikan pendidikan S-2 nya di Universitas Muhammadiyah, Malang. Selain itu, Bank Mandiri juga membantu promosi usahanya. Seperti lewat radio, koran, majalah dan TV. Rudik juga disertakan dalam berbagai macam pameran yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri. Bahkan ia sempat dikirim ke China untuk studi banding tentang asal muasal tahu.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Kiat Sukses

  • Bisa membaca peluang dan menentukan segmen pasar yang dituju. Kesadaran orang untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan organik dijadikan sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
  • Percaya diri dan tetap bertahan serta yakin pada apa yang kita jalankan.
  • Modal terbesar dalam usaha bukan uang, tapi jaringan pasar dan kepercayaan orang.
  • Mencari nilai tambah dari usaha yang dilakukan.

Kekhasan Tahu Organik RDS

Sekilas tak ada perbedaan antara tahu Pelangi buatan RDS dengan produk lainnya. Yang jelas kualitas tahu RDS lebih unggul karena berbahan baku kedelai organik pilihan, tanpa bahan pengawet, enak,  higienis, praktis, tidak sangit, cocok untuk bahan tahu campur, tahu isi, tahu bumbu, tahu petis dan bebas formalin. Kelebihan lainnya adalah aroma kedelainya terasa, tidak kecut (masam), berkadar air rendah atau lebih kering, dan kenyal. Kekenyalan ini bukan karena bahan pengawet namun proses pengolahan dan bahan bakunya yang berkualitas.

Strategi Pemasaran

Dalam pandangannya strategi pemasaran produk di pasaran harus memperhatikan basis pasar tradisional.  “Untuk Pelangi merah (tahu biasa) kita produksi sebanyak 80% dengan keuntungan 20%, sedangkan pasar elite (Pelangi hijau untuk pasar swalayan) 20% dengan keuntungan 80%, jumlah produksi tahu pelangi hijau (elite) hanya 20% karena pasar ini rentan terhadap krisis,” terangnya.  Menurutnya, jika ada 5 orang pelanggan, dimana 4 orang memberi keuntungan sedangkan yang satu orang impas, maka satu orang ini harus tetap di pertahankan karena bisa  menutup biaya produksi harian (overhead).
BIODATA
Nama : Rudik Setiawan, S.Si, M.Agr
Tempat Tanggal Lahir : Malang, 04 Oktober 1984
Pendidikan : S1 Matematika, Universitas Brawijaya, Malang (2008) S2 Agribisnis, Universitas Muhammadiyah, Malang 2011)
Jabatan  : Owner Industri Tahu RDS
Email/blog : mas_rudik@yahoo.com/itrds.blogspot.com

Prestasi Penghargaan 

  • Nominator Asean Innovation Award 2011
  • Pemuda Pelopor Kewirausahaan 2011 dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI
  • Juara I Lomba Inovasi Bisnis Pemuda 2010 dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI
  • Finalis Comunity Entreprise Chalange 2010 dari British Council
  • Juara II Wirausaha Muda Mandiri 2009 tingkat Nasional dari Bank Mandiri
  • Juara II Dji Sam Soe Young Entrepreneur Award 2005 dari PT. HM Sampoerna

Sumber : Majalah Ide Bisnis

Share: