Siaran Pers
Profil Sukses
Dewi Wulansari : Bermula dari Kecil-kecilan, Kini Dikenal sampai Papua

Jumat, 24 Pebruari 2012
Berawal dari bisnis kecil-kecilan yang memanfaatkan jaringan pertemanan, kini usaha Dewi Wulansari telah dikenal luas. Tas promosi yang diproduksi wanita asal Semarang, Jawa Tengah,  ini  dipesan pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga Papua.

Keterampilan menjahit pakaian menjadi modal awal bagi Dewi Wulansari untuk terjun ke dunia wirausaha. Pada 2001, wanita yang akrab disapa Dewi ini,   mencoba mengembangkan keterampilan menjahitnya dengan memproduksi sarung telepon seluler (ponsel) untuk keperluan sendiri. Dewi mengawali dengan sarung berkapasitas satu ponsel,   lalu seiring tren  meningkat menjadi sarung untuk dua ponsel.

Tahun 2003, Dewi masuk  kuliah S1 di jurusan Sastra Inggris Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Lantaran tinggal di kos, Dewi punya banyak teman. Ia pun mulai mengenalkan sarung ponsel buatannya ke teman-teman kosnya. “Ternyata mereka suka dan minta dibuatkan sarung handphone, baik yang single maupun double,” kenangnya. 

Lantaran bekerja sendirian, meskiMeski pesanan yang masuk masih sebatas partai kecil, lantaran bekerja sendirian, Dewi cukup kewalahan karena harus membagi waktu antara kuliah dan memenuhi pesanan pelanggan.  Kebetulan pada tahun yang sama Dewi membeli rumah di belakang kampus UKSW, sehingga pada akhirnya. Ia pun memutuskan merekrut seorang pekerja untuk membantunya menjahit di rumah. Pesanan pun mulai berkembang tidak hanya sarung ponsel, tapi juga tempat pensil dan tas-tas dari kain untuk souvenir acara ulang tahun.

“Dari situ saya berpikir, kenapa tidak mencoba membuat tas-tas promosi saja sekalian? Untuk menjangkau pasar, akhirnya saya coba masuk ke kantor-kantor,” tuturnya.

Demi memudahkan konsumen mengenali produksi tas promosi miliknya, Dewi menamai usahanya “Quality Promotion Bag”. Pesanan pun mulai berdatangan, baik dari kalangan perorangan maupun perusahaan.terutama dari para pelanggan. Untuk kantor atau perusahaan, selain goodie bag, biasanya mereka juga memesan tas selempang untuk tempat laptop. Saat selain itu, khusus  untuk momen-momen tertentu ,  seperti pembukaan toko atau seminar, mereka juga memercayakan pembuatan tas souvenir kepada Dewi.

Selain kantor dan perusahaan, pesanan dari perorangan juga cukup banyak,  terutama untuk keperluan tas souvenir ulang tahun maupun  pernikahan. Pada momen tertentu,  seperti kenaikan kelas atau menjelang Lebaran dan Natal, pemesanan produk meningkat. “Kami tidak mematok jumlah minimal pesanan. Hanya saja, makin banyak jumlah tas yang dipesan, harganya akan semakin murah,” bebernya.  

Agar usahanya dikenal luas, Dewi dibantu sang suami juga berpromosi giat melakukan kegiatan promosi secara online. Sejak itu, pesanan berdatangan dari berbagai kota, termasuk yang terjauh dari Makassar dan Papua. Para pemesan dari kawasan timur Indonesia ini beralasan produk buatan Dewi sangat murah, apalagi jika dibandingkan dengan harga-harga produk serupa di Papua yang umumnya lebih mahal.

Dewi mematok harga produk buatannya mulai yang termurah Rp2.500 untuk sarung ponsel, hingga yang termahal adalah tas laptop dari bahan kulit imitasi seharga hampir Rp100.000. Omzet yang diterima Dewi per bulan tidak tentu, tergantung banyaknya pemesanan. “Namun, rata-rata berkisar Rp30-Rp40 juta per bulan,” sebutnya.  

Kemitraan dengan Bank Mandiri yang telah dijalin sejak empat tahun terakhir sangat membantu pengembangan usahanya. Sebagai mitra binaan, Dewi memperoleh pinjaman yang dimanfaatkannya untuk modal pengembangan usaha. Ia juga telah empat kali mengikuti ajang pameran UKM atas ajakan Bank Mandiri. “Lewat pameran itu, biasanya banyak pengunjung yang akhirnya tahu dan memesan produk tas ke saya,” ungkap Dewi yang baru saja mengikuti pameran Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan Bank Mandiri di Mal Taman Anggrek Jakarta, baru-baru ini. 

Pada kesempatan tersebut, Dewi juga mempromosikan produk terbarunya berupa tas jengkol yang sasaran konsumen utamanya adalah anak-anak. Keunikan utamanya adalah huruf-huruf dari kain berwarna-warni yang menempel pada kain berbentuk bulat sebesar buah jengkol. Huruf-huruf ini lantas ditempel pada tas ataupun tempat pensil hingga membentuk nama anak yang bersangkutan. “Huruf-huruf ini bisa dibongkar pasang,” ungkapnya.

Lantaran usahanya yang terus berkembang, Dewi kini mampu mempekerjakan lima penjahit tetap dan bermitra dengan sekitar sepuluh ibu rumah tangga di lingkungannya. Para ibu yang juga penjahit ini bekerja pada Dewi dengan sistem borongan.

Dia mengakui saat ini pemain di bidang usaha tas promosi makin banyak. Untuk bertahan,  Dewi harus senantiasa menjaga kualitas produk yang menjadi keunggulannya dibanding produsen lain. Menurut Dewi, memproduksi tas yang custom made sama saja dengan membuat benda seni. Untuk itu, ia harus pandai-pandai mendeteksi selera pasar dan model yang sedang diminati.



Pemilik Quality Promotion Bag, Dewi Wulansari, saat mengikuti Pasar Indonesia Goes to Mall, yang diselenggarakan Bank Mandiri di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, belum lama ini.

Untitled Document

Untitled Document

Arsip Profil Sukses

2013 Januari
2012 Januari
Februari
Maret
Agustus
September
Oktober
November
Desember
2011 Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
2010 Oktober
Desember
2009 Agustus
September