Ahmad Abdul Hadi, Mengangkat Harkat Buah Lokal di Pasar Global

Sabtu, 01 September 2012

Tak dilirik di pasar domestik, buah lokal justru berjaya di pasar mancanegara, salah satunya lewat tangan dingin pemuda asal Indramayu, Ahmad Abdul Hadi.
DILAHIRKAN di tengah keluarga yang punya kebun mangga seluas lebih kurang 1 ha, rupanya menginspirasi Hadi untuk terjun di bisnis buah mangga, yang identik dengan Kota Cirebon ini. Awalnya, ada rasa tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh orang tua dan para tetangganya yang  berdagang mangga karena hanya sebatas antarkota dan pasar domestik. Mengapa tidak ada yang mengekspor? Begitu pikiran  yang berkelebat  di benaknya.  Tak hanya sebatas dengan keinginan, Hadi  dengan sigap berusaha mewujudkannya. Tapi bagaimana caranya? Siapa pembelinya? Bagaimana menghubunginya? Tanpa bekal yang memadai, Hadi mencoba memotret mangga dengan kamera handphone yang lantas di-upload di internet. Ia pun menawarkan dengan mengirimkan email pada pembeli yang dirasa potensial di berbagai negara. Bersamaan dengan itu, ia rajin membuka situs mencari tatacara prosedur ekspor hingga pengemasan. “Saya cari  persyaratan ekspor lewat internet, karena tidak tahu harus bertanya kepada siapa, sementara saya buta cara mengekspor barang, termasuk kemasan yang waktu itu hanya dikenal dengan peti untuk mengirim mangga,” ungkap Hadi yang sebelumnya membuka usaha bengkel motor dan mobil namun bangkrut.
Kegigihannya mulai  membuahkan hasil di tahun 2008. Ada pesanan mangga dari Singapura. Tapi sebelum barang dikirim, pedagang asal Negeri Singa ini meminta contoh barang. Mau tak mau, Hadi harus membawa contoh ke sana. Langkahnya sempat tertahan di Bandara Changi lantaran penampilannya yang kurang meyakinkan ditambah dengan tidak adanya sertifikat. Saat itulah, ia baru tahu, kalau produk pertanian termasuk buah-buahan diwajibkan menyertakan sertifikat. Akhirnya setelah 3 jam ditahan imigrasi, Hadi diperbolehkan keluar.
“Berbagai pelatihan yang ia terima  be¬nar-benar mengubah mindset dalam berbisnis menjadi lebih baik. Misalnya bagaimana cara berkomunikasi dengan buyer, meningkatkan selling, membuat branding”
Dirampok di kapal
Dalam perjalanan pulang kisah kemalangannya belum berakhir, Hadi mampir ke Penang (Malaysia), lantas meneruskan dengan kapal ke Medan. Terpaksa ia meminta kiriman uang untuk membiayai kepulangannya ke kampung halaman.
Pengalaman pahit pun berakhir manis. Importir asal Singapura tersebut menjadi pembeli pertama. Dalam kurun waktu 2 bulan di akhir tahun 2008, mahasiswa tingkat III asal Kabupaten Cirebon ini berhasil mengekspor mangga  sebanyak 17,5 ton. Bagi Hadi pembeli asal Singapura ini sangat berarti, lantaran juga mengajari banyak hal kepadanya. Mulai dari pendokumenan hingga cara packaging yang baik. “Ia mengispirasi saya, kebetulan juga masih muda,” jelas Hadi, pemilik usaha CV. Sumber Buah ini.
Ekspor perdana ke Singapura ini seperti meruntuhkan tembok penghalang. Di tahun 2009, sekitar 200 ton berbagai buah-buahan asal Indonesia yang sebagian besar mangga berhasil di ekspor ke berbagai negara, seperti Singapura, Hongkong, Bahrain, Dubai (Uni Emirat Arab), Abudabhi, dan Amsterdam (Belanda). Bahkan kini, ia sudah mampu mengekspor 500 ton buah per tahunnya. Buah sebanyak itu tentu saja tidak mampu ia sediakan dari kebun miliknya. Ia membangun mitra dengan para petani mulai dari Cirebon, Medan, Bali, NTB, dan Kalimantan. Bila dilihat besaran ekspornya, komposisi buah yang di ekspor adalah 50% mangga, 20% manggis, 20% rambutan, dan 10% campuran (jambu biji, salak, dsb.).
Kiprah Hadi menembus pasar ekspor ini, ternyata diteropong oleh Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Cirebon. Mereka terkesan oleh adanya eksportir asal daerah. Apalagi selama ini eksportir identik dengan kota-kota besar. Maka saat ada pameran di luar negeri, seperti Hongkong dan Bahrain iapun diajak. Dari ajang ini ia mendapat tambahan buyers.
Kesempatan makin terbuka ketika ia meraih pemenang 1 di ajang Wirausaha Muda Mandiri, yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri di tahun 2010. Dari situ hingga saat ia sering  diikutkan dalam berbagai pelatihan, pameran, dan coaching kewirausahaan. “Berbagai pelatihan ini benar-benar mengubah mindset dalam berbisnis ke arah yang lebih baik. Misalnya bagaimana komunikasi yang efektif dengan buyer, kiat meningkatkan selling,  dan membuat branding,” jelasnya.
Secara spesifik pemuda dengan tutur kata lembut ini menjelaskan bagaimana mangga produksinya harus mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan yang lain. Mangga harus dibuat semenarik mungkin, memenuhi standar tertentu, packaging-nya juga harus unik  dan atraktif. Ia lantas menganalogikan mangga gedong gincu 3 kg ditempatkan dalam kantung plastik kemudian dijual dengan harga Rp 100.000, bisa jadi tidak ada yang beli. “Tapi saat kita kemas dalam kemasan yang atraktif, Anda bisa lihat sendiri tak ada yang menawar. Produk boleh sama, tapi soal kualitas beda, meski tetap sama-sama mangga,” papar Hadi, saat ditemui di stand Bank Mandiri dalam ajang pameran mitra binaan awal Agustus 2012.
It is a real of mango
Soal menjaga mutu produk ini menjadi bagian yang tak bisa ditawar, terutama untuk mangga, karena pesaingnya bukan hanya datang dari dalam negeri, tapi dari luar negeri, seperti Pakistan, India, Australia, Kenya, Brasil, dan Thailand. Oleh karena itu selalu ada kontrol kualitas atas produk yang disampaikan ke petani. Ketika mangga dipanen dan masuk gudang sudah langsung disortir., kecuali mutu yang memang harus prima. Menurut Hadi, mangga asal Indonesia, terutama gedong gincu menurut para pelanggan, menjadi favorit. Dari rasa, bau yang khas, lantas penampilannya yang merah. Apalagi ketika matang tidak 100% manis, ada asem-asemnya. “It is a real of mango,” kata Hadi menirukan komentar para pembeli luar.
Tak pelak, dengan kerja kerasnya Hadi  secara nyata telah mensejahterakan 70 -100 karyawan dan meningkat hingga 200 an saat panen raya, serta ribuan petani mitranya melalui buah lokal Indonesia di pasar internasional. Sebuah prestasi yang layak dipuji, di tengah makin tergelincirnya kecintaan bangsa ini akan buah asli negeri sendiri.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Biodata
Nama : Ahmad Abdul Hadi
Jabatan : Pemilik CV Sumber Buah Sae
Umur : 27 tahun
Pendidikan : Sarjana Ekonomi Manajemen, Universitas Swadaya Gunungjati, Cirebon
Tempat Tinggal : Jl. Sultan Agung Tirtayasa 4, Siledu Kedung Dawa, Kedawung, Cirebon 45153
Tlp : 0231 (486024)   Faks: 0231 (489918)
Email : sae@saefruits.com
Penghargaan
  • Pemenang I Wirausaha Muda Mandiri 2010 kategori mahasiswa program pascasarjana dan alumni bidang usaha industry dan jasa
  • Piagam penghargaan ketahanan pangan tahun 2009
  • Peringkat I perusahaan buah-buahan komoditas mangga tahun 2009
  • Piagam penghargaan eksportir produk hortikultura Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian tahun 2009
Kiat Sukses :
  • Ridho dan doa orang tua serta istri.
  • Berbuat melebihi orang lain agar bisa bersaing. Contohnya, ketika orang lain melakukan 5 langkah, saya melakukan 7 langkah.
  • Memiliki yang tidak dipunyai orang lain. Bisa berupa inovasi produk atau cara komunikasi yang lebih baik dengan buyer.
  • Sabar menghadapi tantangan dan terus berjuang.
Share: